Selasa, 28 September 2021

Istilah Pamali Yang Diyakini Oleh Suku Bugis


 Pamali merupakan suatu istilah yang menjadi pedoman dan diyakini oleh masyarakat suku bugis, yang mana di artikan dengan bahasa indonesia yaitu, pamali (larangan yang sakral untuk di langgar). Hal tersebut menjadi suatu hal yang sangat disakralkan oleh sebagian masyarakat,utamanya masyarakat  suku bugis.


Suku bugis meyakini bahwa hal tersebut bukan hanya istilah atau lelucon, namun pamali memiliki alasan yang kuat yang berhubungan dengan mistis yang mana di percayai jika, seseorang melanggar atau melakukan hal-hal yang di yakini sebagai suatu perbuatan yang sakral atau pamali tersebut.


 Maka niscaya orang  yang melakukan hal tersebut akan mendapatkan suatu ancaman yang berhubungan dengan mistis atau bisa saja penyakit yang tiba-tiba muncul, itu merupakan konsukuensi yang di yakini orang bugis yang masih percaya hal tersebut  hinggah saat ini .


Konon, menurut kepercayaan masyakat khususnya yang berada di pulau sulawesi bagian selatan indonesia, yang mana mayoritas penduduknya bersuku bugis meyakini bahwa, pamali merupakan suatu bentuk larangan dari leluhur dan itu dijadikan keyakinan yang bersifat turun temurun.


Karena keyakinan yang kuat dari orang terdahulu kita, maka muncullah suatu istilah pamali, dimana istilah tersebut bersifat sakral, dan juga di percayai memiliki aurah mistis.


Menurut cerita mitos yang pernah saya dengar dari salah satu tokoh masyarakat bugis, menjelaskan bahwa pamali itu bukan cuman satu kata yang juga memiliki satu makna atau arti, namun pamali tersebut juga melingkup berbagai macam perbuatan atau kelakuan yang dilarang seperti yang akan saya sebutkan dibawah beserta dengan mitos penyakit atau hal mistis yang di timbulkan, karena melanggar pamali seperti berikut ini.:



1. Mitos pamali menduduki bantal


Orang bugis mempercayai pamali menduduki bantal, konon katanya, hal tersebut pernah menjadi suatu larangan dari leluhur mereka. Karena konon larangan yang di utarakan dari leluhur mereka untuk anak-anaknya agar supaya jangan pernah berani menduduki bantal.

 Namun larangan tersebut di langgar atau tetap saja dilakukan oleh anak tersebut,  dan setelah anak itu melakukan larangan itu, tidak berselang lama tiba-tiba bisul yang sangat besar dan parah timbul di bagian pantat anak tersebut.

 Dan di yakini bahwa penyebab bisul itu karena telah melanggar larangan, jadi dari mitos itulah yang membuat orang  masih mempercayai larangan itu yang mana di sebut dengan kata  pamali dari bahasa lontara bugis yang artinya adalah larangan yang sakral.



2. Mitos pamali memotong kuku pada malam hari


Mitos yang di sebutkan di atas tidak jauh berbeda dengan mitos pamali lainnya. Hal tersebut juga di percayai bahwa konon katanya, leluhur atau orang bugis terdahulu membuat larangan atau melarang semua anggota keluarganya untuk memotong kuku pada malam hari.

Larangan tersebut juga di langgar oleh salah satu anggota keluarganya, dan tidak berselang lama bagian jari-jari yang di potong kukunya tiba-tiba membengkak dan bernanah, jadi, hal tersebutlah yang menjadi keyakinan orang-orang yang mana hinggah saat ini masih banyak yang mempercayai mitos atau pamali tersebut.



3. Mitos pamali berpindah tempat pada saat sedang makan


Hal tersebut di percayai karena konon katanya, ada sesosok laki-laki yang memiliki kebiasaan seperti yang di sebutkan di atas, namun suatu ketika, menurut cerita sejarah dari salah satu tokoh masyarakat bugis tersebut.

 Pada saat seorang laki-laki itu melakukan kebiasaanya itu. Tiba-tiba di lihat oleh orang tuanya,dan mengutarahkan suatu kalimat larangan yang mengatakan"hentikan kebiasaan buruk mu itu, karena jika kamu selalu melakukan kebiasaan itu, suatu saat kamu akan menjadi sosok laki-laki yang tidak setia kepada pasangan dan kelak kamu akan memiliki pasangan yang lebih dari satu, yang mana pasangan yang lainmu itu merupakan istri simpanan yang mana akan kamu sembunyikan dari pasangan-pasanganmu yang lain".

Larangan yang berupa ramalan dari orang tua  laki-laki tersebut pada akhirnya menjadi kenyataan, dan hinggah saat ini, larangan itu di sakralkan dengan istilah pamali masih di percayai oleh sebagian msayarakat khususnya suku bugis.



4. Mitos pamali tidak membasahi piring yang sudah di pakai makan


Pamali tersebut konon pertama di utarakan oleh leluhur orang terdahulu kita, yang senang tiasa selalu mengingatkan kepada anak dan istrinya bahwa, setelah makan jangan lupa membasahi piring bekas pakai kalian itu.

Hal tersebut di percayai karena konon katanya, jika piring bekas pakai makan tersebut kering dengan sisah makanan yang di makan tadinya, akan membawa akibat seperti rezeki untuk keluarga itu juga akan kering atau susah mencari nafkah untuk keluarga.

Tidak hanya itu, tapi juga diartikan bahwa jika piring bekas pakai makan tersebut kering dan tiba-tiba di jilat oleh seekor cicak konon katanya, orang yang memakai makan piring tersebut itu akan mengalami sakit perut yang luar biasa.

Mitos tersebut di percayai hinggah saat ini karena menurut masyarakat bugis, sudah banyak yang mengalami hal tersebut dan menyangkutpautkan dengan mitos tersebut.



5. Mitos pamali posisi tidur tengkurap


Mitos tersebut juga di percayai oleh sebagian masyarakat khususnya suku bugis, karena hal tersebut akan membawa malapetakah yang buruk yaitu posisi tidur tengkurap tersebut di percayai sebagai bentuk semacam permintaan, agar salah satu dari orang tua orang yang melakukan hal itu supaya di cabut nyawanya atau dalam artian sebagai bentuk doa yang secara tidak langsung, namun di percyai memiliki makna mendoakan orang tua agar cepat mati.




Suku bugis memang dikenal sebagai suatu suku yang mana banyak memiliki adat istiadat dan juga budaya yang masih di jaga kuat hinggah saat ini, suku bugis juga di kenal dengan keyakinan yang sangat erat dengan apa yang di wariskan oleh leluhur.


Percaya atau tidak percaya Anda pada mitos yang di percayai oleh sebagaian masyarakat khususnya suku bugis seperti yang di sebutkan diatas, itu hak Anda masing-masing, namun penting bagi kita sebagai generasi untuk menghargai suatu keyakinan yang di tinggalkan oleh leluhur atau  orang terdahulu kita.





EmoticonEmoticon