Daftar Isi


    Indonesia merupakan negara yang memiliki beraneka macam suku dan budaya. Di dalam setiap suku memiliki tradisi-tradisi yang mana menjadi ikon atau ciri khas dari setiap suku dan budaya, Di daerah pulau sulewasi khususnya bagian selatan indonesia bagian tengah, terkenal dengan beberapa suku yaitu suku bugis, kajang, dan toraja.

    Suku bugis terkenal dengan adat istiadat yang mana hinggah saat ini masih dipertahankan, seperti contohnya tradisi-tradisinya. Tradisi tersebut yang menjadikan suku bugis dikenal sebagai salah satu suku yang memiliki tradisi yang ekstrim yang mana banyak diakui oleh wisatawan-wisatawan yang berkujung di daerah bugis khususnya suku bugis yang berasal dari kabupaten bone.


    Kabupaten bone, merupakan wilayah atau kota yang mana penduduknya mayoritas orang yang bersuku bugis, dan juga salah satu kabupaten atau kota yang memiliki sejarah kerajaan. Penting bagi Anda untuk mengenal berbagai tradisi-tradisi ektrim yang dimiliki setiap suku di indonesia, khususnya suku bugis.


    Kali ini saya akan membahas beberapa tradisi dari adat suku bugis yang mana di tekal sebagai salah satu suku yang memiliki tradisi paling ektrim di indonesia.


    Berikut tradisi-tradisi ekstrim dari suku bugis


    1. Tari maggiri' / Mabbisu



    Tarian biasanya ditampilkan identik dengan gerakan-gerakan lemut yang lemah gemulai, namun berbeda dengan suku bugis yang mana sering kali menampilkan tarian yang di kenal dengan tari maggiri yang mana tari tersebut dipertunjukkan oleh seorang atau kelompok yang dikenal dengan sebutan bissu.


    Bissu merupakan seorang wanita pria, atau lebih dikenal dengan istilah (waria) yang mana bissu tersebut dipercayai oleh suku bugis menjadi penghubung dari dewa di langit dengan manusia di bumi.


    Tari maggiri tersebut terkenal ektrim karena gerakan yang ditampilkan oleh seorang bissu tersebut merupakan gerakan yang tak lazim bagi orang yang melihat pertunjukkan tersebut, kenapa demikian, karena gerakan yang di pertunjukkan adalah dimana seorang bissu tersebut menggunakan benda pusaka yang dikenal dengan sebutan kris, dan menancapkan atau menusuk bagian tubuhnya bahkan lidah dan bola mata seorang bissu tersebut, akan tetapi tidak meninggalkan bekas atau luka sedikitpun.


    Tari maggiri tersebut diperkirakan ada sejak tahun 1326-1358. Sejak zaman pemerintahan raja bone yang ke 1, yang bergelar to manurung ri matajang yang menjadi salah satu tarian yang kerap ditampilkan atau dipentaskan di istana kerajaan khususnya kerajaan bone.



    2. Angngaru'




    Angngaru' merupakan tradisi ektrim masyarakat suku bugis, angngaru' dikenal sebagai bentuk ikrar kesetiaan rakyat atau prajurit kepada raja atau pemimpin yang baik, dengan sifat mengayomi dan tentunya menjadi pemimpin yang disenangi rakyatnya.

    Tradisi tersebut konon katanya di lakukan oleh rakyat yang mana menyodorkan diri dan rela mengobarkan jiwa raganya untuk tunaikan titah sang raja atau pemimpin.


    tradisi ini biasanya dipentaskan ketika menyambut sang raja atau pemimpin , yang dilakukan oleh satu orang didepan raja atau pemimpin tersebut dengan mengucapkan sumpah atau ikrar di sertai dengan gerakan yang mana gerakan tersebut terbilang sangat ektrim, karena menggunakan benda pusaka kawali atau badik, dan kawali tersebut ditusukkan kebadan sendiri oleh orang yang melalukan angngaru' tersebut dan tidak sama sekali meninggalkan bekas atau luka.



    3. Massallo kawali



    Antraksi tradisi suku bugis yang tergolong ektrim adalalah salah satunya massallo kawali, atau permainan yang bisanya di sebut dengan permainan asing-asing / gobrak sodor, namun yang tak lazim adalah yang disodorkan kelawan dalam permainan ekstrim ini bukan merupakan benda tumpul atau tangan kosong, namun menggunakan badik / kawali.


    Tradisi ini menyimbolkan semangat jiwa pemuda bugis dalam melindungi dan mempertahankan harga diri, maupun tanah kelahiran dari rongrongan musuh atau penjajah.


    Sebelum melakukan permainan tradisi suku bugis ini di lakukan sebuah ritual khusus agar tidak tyerjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat pementasan itu berlangsung.



    4. Sirawu sulo



    Ini merupakan tradisi ektrim yang mana dilakukan dan dikenal sejak dulu oleh masyarakat di wilayah kabutan bone yang dikenal dengan desa pongka, sirawu sulo terdiri dari dua kata yang memiliki arti seperti sirawu ( baku lempar ) dan sulu berarti ( obor ).

    Yang mana tradisi ini merupakan tradisi dimana masyarakat saling melempar obor yang terbuat dari daun kelapa.


    Tradisi ini juga di dikenal dengan nama sirempe' api atau berperang api, yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali yang hanya dilakukan oleh kaum laki-laki dimana jumblah atau usia peserta tidak ditentukan.



    5. Sigajang laleng lipa



    Sigajang laleng lipa merupakan tradisi ektrim yang dilakukan oleh masyarakat suku bugis, bertujuan untuk atau dilakukan ketika ingin menyelesaikan masalah. Ritual ini dilakukan antar dua laki-laki, namun dilakukan didalam satu sarung yang sama.

    Kedua pemuda tersebut masuk kedalam satu sarung dan cara menyelesaikan masalahnya dengan baku tikam menggunakan badik atau kawali yang merupakan senjata tradisional suku bugis.


    Tradisi ini merupakan upayah terakhir atau pilihan akhir dalam menyelesaikan suatu masalah yang tak kunjung terselesaikan, namun sebelum tradisi ini dilakukan biasanya kedua belah pihak akan melakukan musyawarah yang melibatkan dewan adat.


     

    Artikel Terkait: