Warga Satu Desa Hanya Memiliki Tiga Jari Tangan dan Kaki Di Kabupaten Bone

Fenomena yang terungkap dimana ada satu dusun masyarakat, sebagian besar warganya memiliki jari tangan dan kaki seperti kepiting. Daerah ini terletak di Dusun  Ulutaue, Desa Mario, Kecamatan Mare, Kabupaten bone, Provensi Sulawesi Selatan.

Didusun Ulutaue ini penduduknya menderita kelainan fisik baik anak-anak maupun dewasa, mereka memiliki jari terbelah dua dan terkadang hanya memilliki tiga ruas jari, bila kita perhatikan saat dia menggunakan jari tangan mereka mirip dengan kepiting.


Penyebab Terjadinya Fenomena Ini

Bila kita memasuki Dusun Ulutaue, Desa Mario Kabupaten Bone akan nampak pemandangan aneh. Ini karena sebagian besar mayarakat disana menderita kelainan fisik pada jari kaki dan tangan.

Karena kemiskinan mereka kekurangan gizi untuk asupan disaat mereka dikandung.

Ada beberapa penyebabnya,antara lain:

  • Mereka mengatakan ini diderita merupakan bawaan lahir ketika ditanya tentang awal mula kelainan bentuk fisik jari tangan dan kakinya. 
  • Kelainan fisik yang dialami oleh masyarakat di Dusun Ulutaue sudah terjadi turun temurun, yang mana ini mereka anggap sudah digariskan oleh nenek moyang mereka.
  • Ada juga beberapa warga berpendapat bahwa mereka dikena kutukan sehingga jari tangan dan kaki mereka seperti kepiting.
Walaupun mereka memiliki keterbatasan akan tetapi masyarakat yang sebagian besar berpencarian sehari-hari sebagai nelayan. Masyarakat disana sebagian besar hidup miskin.
Karena keterbatasan fisik mereka merasa malu dan cenderung menutup diri dari dunia luar.

Perhatian Pemerintah Setempat

Setelah diangkat tentang fenomena kampung unik atau masyarakat biasanya menyebut kampung kepiting, pemerintah setempat sudah mulai memberikan  perhatian kepada masyarakat Dusun Ulutaue dengan mendatangkan  instansi dari dinas kesehatan.

Perhatian pemerintah selama ini tak pernah memperhatikan daerah ini, dengan adanya pihak Dinas Kesehatan Bone mengunjungi warga kampung ini memberi secercah harapan buat masyarakat disana.

Sejumlah pegawai dinas kesehatan yang berkunjung disana merasa kaget akan fenomena ini, mereka tak menyangka sebagian besar masyarakat disini memiliki kelainan fisik.

Setelah dilakukan pemeriksaan walaupun tampa menggunakan alat bantu, mereka menegaskan bahwa masyarakat disana tak bisa dapat disembuhkan karena itu merupakan cacat bawaan.
Menurut analisis medis hal ini diakibatkan karena perkawinan sedarah atau mungkin jenis darah yang sama. Hal ini bisa ditangani asal ada perkawinan silang.

Mirisnya kehidupan mereka disana, dimana sudah kehidupannya yang pas-pasan dan fisik yang tak sempurna semoga kiranya, pemerintah dapat memberikan bantuan dan fasilitas, dan masyarakat disekitarnya janganlah kiranya diasingkan atau jijik untuk datang bersosialisasi di tempat mereka.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel