Misteri Goa Mampu Yang Penuh Dengan Kutukan

Begitu banyak cerita legenda yang menyelimuti masyarakat yang ada di Indonesia seperti halnya dengan cerita yang berkembang di dataran pulau Sulawesi Selatan terutama daerah Bugis. Seperti yang kita ketahui cerita yang berkembang tentang cerita rakyat tentang Goa Mampu. Yang mana Kita tahu bahwa Goa Mampu berada di kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Goa Mampu terletak di lereng Gunung Mampu, Desa Cabbeng, Kecamatan Dua Boccoe. Yang mana letak goa ini berjarak sekitar 45 km dari kota Bone, dan perjalanan yang dilakukan dari kota Makassar sekitar 4 jam. Goa mampu memiliki luas sekitar 2.500  yang mana terdapat stalaktit dan stalagmit yang bentuknya mirip mahlluk hidup.
 
Bila kita memasukuki area dalam goa akan nampak berbagai macam bentuk batu yang menyerupai manusia, hewan,area persawahan, tumpukan padi dan perahu dan adapula yang menyerupai seorang ibu yang sedang melahirkan. Di lihat dari semua perwujudan batu itu ada kesan tentang gambaran kehidupan. 


Kisah Misteri di Masyarakat Mampu

Adapun kisah yang berkembang di masyarakat yang ada di sekitar goa mampu dimana dahulu kala ada sebuah peradaban manusia yang mana berdiri sebuah kerajaan yang sangat kaya dan rakyatnya hidup serba berkecukupan dimana kerajaan ini dikenal dengan Kerajaan Mampu.
 
Yang mana kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja yang bernama La Oddang Patara, didampingi permaisurui bernama I La Wallellu yang dmana diberi gelar Puang Mallosu-losue Ri Mampu (Ratu yang telanjang dari Mampu).
 
Kehidupan masyarakat Mampu sebagian besar berprofesi sebagai petani dan nelayan serta pengrajin. Apa yang mereka tanam akan tumbuh dan menghasilkan panen yang melimpah begitu pula para nelayannya ikan melipah ruah.
 
Karena kelimpahan ini mereka lupa diri, mereka menjadi sombong dan takabur yang akhirnya kesenangan itu berakhir jadi kemaksiatan.
 
Yang mana mereka telah lupa untuk melakukan ritual penyembahan kepada Tuhan Sang Maha pencipta, mereka berpendapat semua yang didapatnya tak ada campur tangan Tuhan.Dan saat itulah Tuhan memberikan ujian kepada masyarakat Mampu dengan mengirimkan seekor anjing yang bisa berbicara seperti manusia.

Kutukan Masyarakat Mampu Jadi Batu

Alkisah menjelaskan bahwa ini terjdi saat itu putri raja yang terkenal kan kesenangan akan menenung, saat itu sang putri menenung seorang diri di teras rumah panggungya.disaat dia menenung tiba-tiba ngantuk datang menghampirinya dan alat tenun yang biasa juga disebut wilida terjatuh ke tanah.
 

Pada saat itu kemalasan melanda sang putri untuk turun mengambil alat tenunnya yang jatuh sehingga dia berujar "Barang siapa yang bisa mengambilkan alat tenun saya, apabila seseorang perempuan saya akan jadikan saudara namun bila dia seorang laki-laki aku akn menjadikan sebagai seorang suami tampa ada uang mahar atau panaik.
 

Saat itulah yang mendengar perkataan sang putri adalah seekor anjing, datanglah seekor anjing dengan menggigit alat tenun sang putri mendatanginya dan membuat sang putri kaget. Putri bertanya bagaimana aku memenuhi janjiku kalau kamu hanyalah seekor anjing dan tiba-tiba anjing itu berbicara layaknya seorang manusia menagih janji sang putri, sang putri tambah heran akan tetapi dia tetap bersikeras untuk tidak menepati janjinya.

Karena putri tak menepati janjinya maka sang anjing mengutuk dan keluarlah sumpah dari mulut anjing itu dengan tegas "Wahai sang putri karena engkau telah ingkar janji dan semua orang di negerimu yang sering mengabaikan janjinya dan menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain, maka melalui telunjuk kalian aku akan membuat kalian menjadi batu. Sehingga putri raja pingsan dan pelan-pelan berubah menjadi batu mulai dari kepala sampai kakinya.
 

Melihat hal ini para dayang dan masyarakt kaget akan kejadian yang menimpah sang putri dan menunjuk seraya bertanya-tanya apa yang terjadi akan tetapi yang terjadi menjadi naas bagi mereka karena setiap orang yang bertanya dan menunjuk ikut juga menjadi bongkahan batu. peristiwa ini dikenal dengan istilah sijello' to mampu (saling menunjuk).

Bila kita datang ke Goa Mampu hendaklah kita jangan menunjuk karena diyakini takutnya kutukan itu masih berlaku. Ini bisa kita ambil suatu kesimpulan bahwa ini memberikan kita pemahaman dan kearifan dalam berfikir bagaimana kita bila sudah berjanji haruslah ditepati dan janganlah menunjuk kesalahan seseorang tampa intropeksi diri kita juga.

 


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel